Survey Potensi Daerah Kabupaten Mappi – Provinsi Papua 2011

Pada akhir dari laporan Survey Potensi Daerah Kabupaten Mappi, yang bertujuan untuk mengetahui potensi-potensi unggulan mana yang bisa di kedepankan untuk di kembangkan di kabupaten Mappi dalam rangka meningkatkan pendapatan Asli Daerah , dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kabupaten Mappi .

 

Kegiatan ini dilaksanakan agar pemerintah daerah dapat merencanakan langkah-langkah selanjutnya guna mengoptimal potensi yang dimiliki kabupaten Mappi , dan dapat memprioritaskan pembangunan infrastruktur utama dan pendukung pemanfaatan ,pengolahan pengusahaan dari komoditas terpilih untuk sebesar-besarnya kemanfaatan daerah Kabupaten Mappi sendiri (Self Sufficient) setelah itu baru berusaha untuk mengekspor komoditas tersebut keluar Kabupaten Mappi.

Dari hasil pengolahan data maka dapat diambil  kesimpulan  bahwa tiap distrik mempunyai potensi daerah yang berasal dari alam yang berbeda., yaitu :

  1. Distrik Bamqi, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
    1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Padi , Karet , Umbi-umbian , Buah-buahan, Sayuran
    2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Sapi , Babi , Unggas , Perikanan darat dan Perikanan Terbuka
    3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gambir , Pohon Masohi , Pohon Kayu Besi , Pohon Kemendangan
    4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat
    5. Distrik Edera, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
      1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Karet , Kakao , Padi, Sayuran
      2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Babi , Perikanan Terbuka, Unggas,Perikanan Darat
      3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gambir , Pohon Masohi , Pohon Kayu Besi , Gaharu
      4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat
      5. Distrik Miyanmur, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
        1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Padi , Umbi-umbian , Karet , Sayuran , Buah-buahan
        2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Laut , Perikanan Terbuka , Unggas Babi
        3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gambir , Pohon Kayu Besi , Gaharu , Masohi
        4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat
        5. Distrik Nambioman Bapai, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
          1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Padi , Karet , Umbi-umbian , Buah-buahan , Sayuran
          2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Laut , Perikanan Terbuka , Sapi, Unggas
          3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gambir , Pohon Kayu Besi , Gaharu , Masohi
          4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat
          5. Distrik Venaha, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
            1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Karet , Umbi-umbian , Palawija , Kelapa Buah-buahan .
            2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Terbuka , Babi, Unggas, Perikanan Darat
            3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gambir , Pohon Kayu Besi , Gaharu , Kemendangan
            4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat

 

  1. Distrik Yakomi, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
    1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Perkebunan Karet , Umbi-umbian , Pertanian Palawija , Sayuran , Jambu Mete .
    2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Terbuka , Babi, Unggas.
    3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gambir , Pohon Kayu Besi , Kemendangan, Masohi
    4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat
    5. Distrik Passue Bawah, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
      1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Umbi-umbian ,  Sayuran , Buah-buahan,Palawija , Kelapa.
      2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Terbuka , Perikanan Darat, Babi ,  Unggas.
      3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gaharu , Kemendangan, Pohon Kayu Besi , Masohi
      4. Komoditas Pertambangan : Galian Pasir dan Galian Lempung
      5. Distrik Tizain, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
        1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Umbi-umbian ,  , Buah-buahan, Sayuran Jambu mete , Kelapa.
        2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Terbuka ,  Babi ,  Unggas, Perikanan Darat
        3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gaharu , , Pohon Kayu Besi , Kemendangan Masohi
        4. Komoditas Pertambangan : Galian Pasir dan Galian Lempung
        5. Distrik Syaha Me, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
          1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Perkebunan Karet , Perkebunan Kakao , Umbi-umbian , Buah-buahan
          2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Unggas ,  Babi,  Sapi,  , Perikanan Darat
          3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Gambir , Pohon Kayu Besi , Masohi
          4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat
          5. Distrik Assue, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
            1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Perkebunan Karet , Sayuran , Padi , buah-buahan, Umbi-umbian
            2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Teruka ,  Babi,  Sapi
            3. Komoditas Hasil Kehutanan : Pohon Kayu Besi , Gaharu ,  Masohi
            4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat
            5. Distrik Haju, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
              1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Perkebunan Karet , Sayuran , Padi , Palawija, Umbi-umbian
              2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  : Perikanan Terbuka , Unggas ,  Babi,  Sapi
              3. Komoditas Hasil Kehutanan : Gaharu ,  Pohon Gambir , Kemendangan ,  Masohi
              4. Komoditas Pertambangan : Tidak teridentifikasikan Potensi Bahan Tambang yang bisa di prioritaskan untuk di kembangkan dalam waktu cepat.
              5. Distrik Obaa, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
                1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Pertanian Padi , Karet ,Umbi-umbian, Palawija , Sayuran
                2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  :  Sapi , Unggas , Perikanan Darat
                3. Komoditas Hasil Kehutanan : Gaharu ,Kayu Besi   , Kemendangan ,Pohon Gambir.
                4. Komoditas Pertambangan : Galian Lempung.
                5. Distrik Citak Mitak, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
                  1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Buah-buahan , Sayuran , Palawija , Perkebunan Karet
                  2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  Perikanan Terbuka , Perikanan Darat , Babi , Unggas
                  3. Komoditas Hasil Kehutanan : Gaharu , , Kemendangan,  Kayu Besi  ,Pohon Masohi.
                  4. Komoditas Pertambangan : Galian Lempung.
                  5. Distrik Kaibar, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
                    1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Sayuran , Umbi-umbian , Buah-buahan , ,Perkebunan Kelapa Palawija
                    2. Komoditas Peternakan dan Perikanan  Perikanan Terbuka , Perikanan Darat , Unggas ,Babi ,
                    3. Komoditas Hasil Kehutanan : Gaharu ,  Kayu Besi ,  Kemendangan,  ,Pohon Masohi.
                    4. Komoditas Pertambangan : Galian Lempung, Galian Pasir , Batubara.
                    5. Distrik Passue, dimana urutan tingkat prioritas pengembangan potensinya adalah sebagai berikut :
                      1. Komoditas Pertanian  dan Perkebunan : Umbi-umbian , Perkebunan Karet , Palawija ,Buah-buahan ,
                      2. Komoditas Peternakan dan Perikanan :  Perikanan Terbuka , Unggas ,Babi , Perikanan Darat .
                      3. Komoditas Hasil Kehutanan : Kemendangan,  Gaharu ,  Kayu Besi, 
                      4. Komoditas Pertambangan : Galian Lempung, Galian Pasir.

 

Selain menentukan jenis-jenis komoditas/potensi daerah Kabupaten Mappi yang bisa di jadikan prioritas pengembangan untuk di tingkatkan kea rah pengelolaan dan pengolahan lebih lanjut dan d harapkan sampai pada tingkat industri, maka hal lain yang dihasilkan dari survey potensi ini juga menghasilkan criteria-keriteria pengembangan potensi tersebut sehingga bisa di kembangkan ke tingkat industrialisasi (walaupun masih pada tingkat industry menggunakan teknologi tepat guna). Prioritas dari criteria-kriteria tersebut jika di urutkan dari yang tertinggi ke terendah adalah sebagai berikut :

  1. Ketersediaan Bahan baku utama (potensi terpilih) baik secara kualitas, maupun ketersediaannya.
  2. Ketersediaan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kemampuan/skill guna mengolah potensi sumber daya alam yang dimiliki.
  3. Kemudahan akses transportasi dari potensi tersebut untuk bisa tersalurkan ke sekitar distrik, keliuar distrik, maupun keluar kabupaten Mappi.
  4. Ketersediaan energy/listrik ataupun jaringan listrik guna mendukung pengusahaan dari potensi daerah tersebut menjadi punya nilai tambah yang lebih.
  5. Ketersediaan lahan guna mendukung peningkatan/pengoptimalan  volume atau pengolahan  potensi sumber daya alam (komoditas pertanian/perikanan/kehutanan/pertambangan).
  6. Ketersediaan sarana air bersih beserta jaringannya terutama untuk mendukung industrialisasi potensi sumber daya alam.
  7. Jaringan Pemasaran, merupakan criteria terakhir tapi bukan diabaikan untuk di kembangkan , karena dewasa ini terutama dalam era globalisasi ini, maka membangun infrastruktur informasi dan telekomunikasi menjadi keharusan juga jika akan membangun dan mengembangkan potensi suatu daerah, supaya potensi daerah tersebut bisa terinformasikan kepada para investor, sehingga perkembangan investasi dapat meningkat dan lapangan kerja terbuka dan pendapatan masyarakat juga meningkat (Market Driven)ImageImageImage

Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2008

 

 PENDAHULUAN

0.1 Umum

0.2 Pendektan Proses

0.3 Hubungan Dengan ISO 9004

0.4 Kesesuaian Dengan Sistem Manajemen Lainnya

  1. RUANG LINGKUP

1.1 Umum

1.2 Penerapan

  1. RUJUKAN NORMATIF
  2. ISTILAH DAN DEFINISI
  3. SISTEM MANAJEMEN MUTU

4.1 Persyaratan umum

4.2 Persyaratan dokumentasi

  1. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN

5.1 Komitmen manajemen

5.2 Fokus pelanggan

5.3 Kebijakan mutu

5.4 Perencanaan

5.5 Tanggung jawab, wewenang dan komunikasi

5.6 Tinjauan manajemen

  1. MANAJEMEN SUMBER DAYA

6.1 Penyediaan sumber daya

6.2 Sumber daya manusia

6.3 Infrastruktur

6.4 Lingkungan kerja

  1. REALISASI PRODUK

7.1 Perencanaan realisasi produk

7.2 Proses yang berhubungan dengan pelanggan

7.3 Rancangan dan pengembangan

7.4 Pembelian

7.5 Produksi dan penyediaan jasa

7.6 Pengendalian alat pemantauan dan pengukuran

  1. PENGUKURAN, ANALISIS DAN PENINGKATAN

8.1 Umum

8.2 Pemantauan dan pengukuran

8.3 Pengendalian ketidaksesuaian produk

8.4 Analisis data

8.5 Peningkatan

PENDAHULUAN

1 Umum

Penggunaan suatu sistem manajemen mutu merupakan suatu keputusan strategis dari suatu organisasi. Rancangan dan penerapan sistem manajemen mutu organisasi dipengaruhi oleh:

  1. Lingkungan organsasi, perubahan-perubahan dalam lingkungan tersebut, dan risiko-risiko terkait dengan lingkungan tersebut,
  2. Kebutuhan yang bervariasi,
  3. Sasaran-sasaran tertentu,
  4. Produk-produk yang diberikan,
  5. Proses-proses yang diterapan,
  6. Ukuran dan struktur organisasi

Bukan merupakan tujuan dari Standar Internasional ini menyeragamkan struktur sistem manajemen mutu atau menyeragamkan dokumentasi.

Persyaratan-persyaratan sistem manajemen mutu yang ditetapkan dalam Standar Internasional ini adalah melengkapi persyaratan-persyaratan produk. Informasi yang ditandai sebagai “CATATAN” adalah panduan dalam memahami atau klarifikasi persyaratan yang terkait.

Standar Internasional ini dapat digunakan oleh pihak internal maupun eksternal, seperti badan sertifikasi, untuk menilai kemampuan organisasi memenuhi persyaratan pelanggan, peraturan dan persyaratan perundangan yang terkait dengan produk, dan persyaratan-persyaratan organisasi itu sendiri. Prinsip-prinsip manajemen mutu yang disebutkan dalam ISO 9000 dan ISO 9004 telah digunakan dengan berbagai pertimbangan selama pengembangan Standar Internasional ini.

2 Pendekatan proses

Standar Internasional ini mempromosikan penggunaan suatu pendekatan proses saat mengembangkan, menerapkan dan meningkatkan efektifitas suatu sistem manajemen mutu, untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memenuhi persyaratan pelanggan.

Agar organisasi berfungsi dengan efektif, organsasi harus menetapkan dan mengelola beberapa aktifitas-aktifitas yang saling terkait. Suatu aktifitas atau sekumpulan aktifitas yang menggunakan sumber daya, dan mengelolanya agar mampu menu bah masukan-masukan menjadi keluaran-keluaran, dapat dipertimbangkan sebagai suatu proses. Seringkali keluaran dari suatu proses secara langsung merupakan masukan untuk proses berikutnya.

Penerapan suatu sistem dari proses-proses di dalamsuatu organisasi, bersama dengan identifikasi dan interaksi proses-proses tersebut, dan pengelolaannya untuk menghasilkan suatu hasil yang diinginkan, dapat dirujuk sebagai suatu “pendekatan proses”.

Keuntungan pendekatan proses adalah pengendalian yang terus menerus yang memastikan kelangsungan antara proses-proses individu di dalam sistem proses- proses, termasuk juga kombinasi dan interaksinya.

Saat digunakan di dalam sistem manajemen mutu, pendekatan tersebut menekankan pentingnya :

  1. Memahami dan memenuhi persyaratan-persyaratan
  2. Kebutuhan untuk mempertimbangkan proses-proses yang memberikan nilai tambah
  3. Mendapatkan hasil-hasil kinerja proses dan efektifitas, dan
  4. Peningkatan secara berkelanjutan proses-proses berdasarkan pada pengukuran tujuan.

Model suatu sistem manajemen mutu ditunjukkan dalam Gambar 1 yang menggambarkan hubungan-hubungan yang dijelaskan mulai dari Klausa 4 sampai 8. Gambaran ini memperlihatkan bahwa pelanggan memainkan peran yang signifikan dalam menetapkan persyaratan­persyaratan sebagai masukan. Pemantauan kepuasan pelanggan mensyaratkan adanya evaluasi informasi terkait dengan persepsi pelanggan sehingga organisasi dapat memenuhi persyaratan-persyaratan pelanggan. Model yang ditunjukkan dalam Gambar 1 mencakup seluruh persyaratan Standar Internasional ini, tetapi tidak menunjukkan tingkat detil dari proses-proses.

CATATAN Sebagai tambahan, metodologi yang dikenal sebagai “Plan-Do-Check-Act” (PDCA) dapat diterapkan pada semua proses. PDCA dapat dijelaskan secara umum sebagai berikut

Plan (Rencana): menetapkan sasaran dan proses yang diperlukan untuk memberikan hasil-hasil sesuai dengan persyaratan-persyaratan pelanggan dan kebijakan­kebijakan organisasi.

Do (lakukan): menerapkan proses-proses.

Check (periksa): memantau dan mengukur proses-proses dan produk dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan, sasaran-sasaran dan persyaratan-persyaratan untuk produk dan melaporkan hasilnya.

Act (tindakan): mengambil tindakan untuk meningkatkan secara berkelanjutan kinerja proses.

Gambar 1.1 Model suatu sistem manajemen mutu berdasarkan proses

3 Hubungan Dengan ISO 9004

ISO 9001 dan ISO 9004 adalah sistem manajemen mutu yang dapat dirancang untuk saling melengkapi, juga dapat digunakan secara terpisa h.

ISO 9001 menetapkan persyaratan untuk suatu sistem manajemen mutu yang dapat digunakan untuk penerapan internal oleh organisasi, atau untuk sertifikasi, atau untuk tujuan kontraktual. Persyaratan ini mempunyai fokus pada keefektifan sistem manajemen mutu untuk memenuhi persyaratan-persyaratan pelanggan.

Saat Standar Internasional ini diterbitkan, ISO 9004 sedang dalam perubahan. Edisi perubahan ISO 9004 akan memberikan panduan untuk manajemen untuk mencapai sukses yang mendukung organisasi dalam kondisi yang kompleks, banyak permintaan dan bahkan perubahan, lingkungan. ISO 9004 memberikan fokus yang lebih luas dalam manajemen mutu dibandingkan dengan ISO 9001; standar ini menekankan kebutuhan dan harapan seluruh pemangku kepentingan dan kepuasannya, dengan kinerja organisasi yang sistematis dan peningkatan secara berkelanjutan. Namun, standar ini tidak ditujukan untuk sertifikasi, peraturan atau kontraktual.

4 Kesesuaian Dengan Sistem Manajemen Iainnya

Selama pengembangan Standar Internasional ini, beberapa pertimbangan diberikan untuk penyediaan ISO 14001:2004 untuk meningkatkan kesesuaian bagi kedua standar manfaat bagi komunitas pengguna. Lampiran A menggambarkan hubungan antara ISO 9001:2008 dan ISO 14001:2004.

Standar Internasional ini tidak termasuk persyaratan­persyaratan tertentu untuk sistem manajemen lainnya, seperti halnya pengelolaan lingkungan, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, manajemen keuangan atau manajemen risiko. Namun demikian, Standar Internasional ini memampukan organisasi untuk menyeleraskan atau mengintegrasikan sistem manajemen mutunya dengan persyaratan­persyaratan sistem manajemen terkait. Hal ini dimungkinkan bagi sebuah organisasi untuk mengadopsi sistem manajemen yang ada saat ini agar membuat suatu sistem manajemen mutu yang memenuhi persyaratan­persyaratan Standar Internasional ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SISTEM MANAJEMEN MUTU – PERSYARATAN

 

1. RUANG LINGKUP

1.1 Umum

Standar Internasional ini menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen mutu di mana suatu organisasi

  1. Perlu menunjukkan kemampuannya untuk menyediakan secara konsisten produk yang memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan perundangan yang berlaku, dan
  2. Bertujuan meningkatkan kepuasan pelanggan melalui proses peningkatan sistem secara berkelanjutan dan jaminan kesesuaian pada persyaratan pelanggan dan perudangan serta peraturan yang berlaku.

CATATAN 1 Dalam Standar Internasional ini, istilah”produk” hanya diterapkan untuk :

  1. Produk yang ditujukan atau disyaratkan oleh pelanggan
  2. Setiap hasil yang diinginkan dari proses realisasi produk

CATATAN 2 Persyaratan perundangan dan peraturan dapat dianggap sebagai persyaratan legal.

1.2 Penerapan

Semua persyaratan dari Standar Internasional ini adalah umum dan dimaksudkan untuk dapat diterapkan pada semua organisasi, tanpa menghiraukan jenis, ukuran dan produk yang dihasilkan.

Jika ada persyaratan Standar Internasional ini yang tidak dapat diterapkan karena sifat organisasi dan produknya, maka dapat dipertimbangkan untuk pengecualian.

Bila pengecualian dilakukan, maka klaim kesesuaian terhadap Standar Internasional ini hanya dapat diterima jika pengecualian terbatas pada persyaratan pasal 7, dan pengecualian itu tidak mempengaruhi kemampuan, atau tanggungjawab organisasi untuk menyediakan produk yang memenuhi persyaratan pelanggan dan perundangan serta peratuan yang berlaku.

2. RUJUKAN NORMATIF

Dokumen normatif berikut ini penting dalam penerapan dokumen ini. Untuk rujukan yang berlaku, hanya edisi terbaru yang diterapkan. Untuk rujukan yang kadaluarsa, edisi terakhir dari rujukan dokumen (termasuk adanya perubahan) berlaku.

ISO 9000:2005, Sistem manajemen mutu — Dasar-dasar dan kosa kata.

3. ISTILAH DAN DEFINISI

Untuk maksud dari Standar Internasional ini, istilah dan definisi yang diberikan oleh ISO 9000 diberlakukan. Sepanjang teks dalam Standar Internasional ini, bila istilah “produk” muncul, hal ini juga berarti “jasa”.

4, SISTEM MANAJEMEN MUTU

4.1 Persyaratan umum

Organisasi harus menetapkan, mendokumentasikan, menerapkan dan memelihara suatu sistem manajemen Organisasi harus :

  1. Menetapkan proses yang diperlukan untuk sistem manajemen mutu dan penerapannya di seluruh organisasi (lihat 1.2),
  2. Menetapkan urutan dan interaksi dari proses-proses tersebut,
  3. Menetapkan kriteria dan metode yang diperlukan untuk menjamin bahwa operasi dan pengendalian dari proses-proses tersebut efektif,
  4. Memastikan ketersediaan sumber daya dan informasi yang perlu untuk mendukung operasi dan pemantauan dari proses-proses tersebut,
  5. Memantau, mengukur (bila memungkinkan), dan menganalisis proses-proses tersebut, dan
  6. Menerapkan tindakan yang perlu untuk mencapai hasil yang direncanakan dan peningkatan berkelanjutan dari proses tersebut.

Proses-proses itu harus dikelola oleh organisasi sesuai dengan persyaratan dari Standar Internasional ini.

Bila organisasi memilih untuk melakukan suatu proses yang dikerjakan oleh pihak lain yang berdampak pada kesesuaian produk, maka organisasi harus menjamin pengendalian proses-proses tersebut. Jenis dan tingkat pengendalian yang diterapkan pada proses yang dikerjakan pihak lain harus ditetapkan dalam sistem manajemen mutu.

CATATAN 1 Proses-proses yang diperlukan untuk sistem manajemen mutu seperti di atas harus mencakup proses- proses kegiatan manajemen, penyediaan sumber daya, realisasi produk dan pengukuran, analisis dan peningkatan.

CATATAN 2 Suatu “proses yang dikerjakan pihak lain” adalah suatu proses yang diperlukan organisasi untuk sistem manajemen mutu dan yang dipilih organisasi untuk dilakukan oleh pihak luar.

CATATAN 3 Memastikan pengendalian atas proses-proses yang dikerjakan pihak luar tidak melepaskan tanggung jawab organisasi untuk memastikan kesesuaian dengan seluruh pelanggan. Jenis dan jangkauan pengendalian yang diterapkan pada proses yang dikerjakan pihak luar dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Potensi dampak proses yang dikerjakan pihak luar pada kemampuan organisasi untuk memberikan prod uk yang sesuai dengan persyaratan,
  2. Tingkat di mana pengendalian untuk proses dipisahkan,
  3. Kemampuan untuk mencapai pengendalian yang diperlukan melalui penerapan 7.4

Gambar 2. Persyaratan Umum

Gambar 3. Siklus Sistem Manajemen Mutu

4.2 Persyaratan Dokumen

4.2.1 Umum

Dokumentasi sistem manajemen mutu harus mencakup :

  1. Pernyataan terdokumentasi kebijakan mutu dan sasaran mutu,
  2. Suatu pedoman mutu,
  3. Prosedur terdokumentasi yang disyaratkan oleh Standar Internasional ini,
  4. Dokumen, termasuk catatan, yang ditetapkan oleh organisasi untuk menjamin keefektifan perencanaan, pengoperasian dan pengendalian dari proses­prosesnya, dan

CATATAN 1 Jika istilah “prosedur terdokumentasi” muncul dalam Standar Internasional ini, itu berarti prosedur yang telah ditetapkan, didokumentasikan, diterapkan dan dipelihara. Suatu dokumen tunggal dapat menekankan persyaratan untuk satu atau lebih prosedur. Suatu persyaratan untuk prosedur terdokumentasi dapat dicakup dengan lebih dari satu dokumen

CATATAN 2 Cakupan dari dokumentasi sistem manajemen mutu dapat berbeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya karena

  1. Ukuran organisasi dan jenis kegiatannya
  2. Kompleksitas proses-proses dan interaksinya, dan
  3. Kompetensi karyawan.

CATATAN 3 Dokumentasi dapat dalam bentuk atau jenis media apa saja.

4.2.2 Pedoman mutu

Organisasi harus menetapkan dan memelihara pedoman mutu yang mencakup :

  1. Ruang lingkup sistem manajemen mutu, termasuk perincian dan alasan adanya pengecualian (lihat 1.2)
  2. Prosedur terdokumentasi yang ditetapkan untuk sistem manajemen mutu, atau merujuk kepadanya, dan
  3. Gambaran interaksi antara proses- proses dari sistem manajemen mutu.

 

 

4.2.3 Pengendalian dokumen

Dokumen yang disyaratkan oleh sistem manajemen mutu harus dikendalikan. Catatan adalah suatu jenis dokumen dan harus dikendalikan sesuai persyaratan yang diberikan pada 4.2.4.

Prosedur terdokumentasi harus ditetapkan untuk menentukan pengendalian yang dibutuhkan

  1. Untuk mensahkan kecukupan dokumen sebelum diterbitkan,
  2. Untuk meninjau dan memperbaharui sesuai keperluan dan mengesahkan ulang dokumen,
  3. Untuk menjamin bahwa perubahan dan status revisi dari dokumen yang berlaku diidentifikasi,
  4. Untuk menjamin bahwa versi dokumen yang berlaku tersedia di tempat penggunaan,
  5. Untuk menjamin bahwa dokumen tetap dapat dibaca dan mudah diidentifikasi
  6. Untuk menjamin bahwa dokumen yang berasal dari luar ditetapkan oleh organisasi yang diperlukan untuk perencanaan dan operasi sistem manajemen mutu teridentifikasi dan distribusi dikendalikan, dan
  7. Untuk mencegah penggunaan yang tidak diharapkan dari dokumen kadaluarsa, dan menerapkan identifikasi yang sesuai jika dokumen tersebut disimpan untuk tujuan tertentu.

Catatan-catatan dibuat untuk memberikan bukti kesesuaian terhadap persyaratan dan efektivitas pengoperasian sistem manajemen mutu harus dikendalikan. Organisasi harus menetapkan suatu prosedur terdokumentasi untuk menentukan pengendalian yang diperlukan untuk identifikasi, penyimpanan, perlindungan, pengambilan, masa simpan dan pemusnahan catatan.

Catatan-catatan harus tetap terbaca, mudah diidentifikasi dan mudah diambil.

Gambar 4. Bagan Pengendalian Dokumen

4.2.4 Pengendalian rekaman

Rekaman harus ditetapkan dan dipelihara untuk memberikan bukti kesesuaian dengan persyaratan dan beroperasinya secara efektif sistem manajemen mutu.

  1. Rekaman harus tetap mudah dapat dibaca
  2. Siap ditunjukan dan diambil

Prosedur terdokumentasi harus ditetapkan untuk menentukan kendali yang diperlukan untuk :

  1. Identifikasi
  2. Penyimpanan
  3. Perlindungan
  4. Pengambilan
  5. Masa Simpan, dan
  6. Pemusnahan Rekaman

Yang harus dibuat :

  1. Master List record yang berisi daftar record, lama penyimpanan dan metode pemusnahannya.
  2. IK backup data

Gambar 5. Bagan Pengendalian Rekaman

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN

5.1 Komitmen manajemen

Manajemen puncak harus memberikan bukti atas komitmennya untuk pengembangan dan penerapan sistem manajemen mutu dan secara berkelanjutan meningkatkan efektifitasnya melalui :

  1. Komunikasi kepada organisasi tentang pentingnya memenuhi persyaratan pelanggan demikian juga persyaratan perundangan dan peraturan,
  2. Menetapkan kebijakan mutu,
  3. Menjamin bahwa sasaran—sasaran mutu ditetapkan,
  4. Melaksanakan tinjauan manajemen, dan
  5. Menjamin tersedianya sumber daya.

5.2 Fokus pelanggan

Manajemen puncak harus menjamin bahwa persyaratan pelanggan ditetapkan dan dipenuhi dengan tujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan (lihat 7.2.1 dan 8.2.1).

5.3 Kebijakan mutu

Manajemen puncak harus menjamin bahwa kebijakan mutu :

  1. Sesuai dengan tujuan dari organisasi,
  2. Mencakup komitmen untuk memenuhi persyaratan dan secara berkelanjutan meningkatkan keefektifan sistem manajemen mutu,
  3. Memberikan kerangka untuk menetapkan dan meninjau sasaran-sasaran mutu,
  4. Dikomunikasikan dan dimengerti di dalam organisasi, dan
  5. Ditinjau agar selalu sesuai.

5.4 Perencanaan

5.4.1 Sasaran mutu

Manajemen puncak harus menjamin bahwa sasaran mutu, termasuk hal-hal yang dbutuhkan untuk memenuhi persyaratan produk (lihat 7.1a), ditetapkan pada fungsi dan tingkatan yang sesuai di dalam organisasi. Sasaran mutu harus dapat diukur dan konsisten dengan kebijakan mutu.

5.4.2 Perencanaan Sistem Manajemen Mutu

Manajemen puncak harus menjamin bahwa :

  1. Perencanaan sistem manajemen mutu dilaksanakan agar memenuhi persyaratan yang diberikan di 4.1., demikian juga sasaran mutu, dan
  2. Integritas sistem manajemen mutu dipelihara ketika perubahan terhadap sistem manajemen mutu direncanakan dan diterapkan.

5.5 Tanggung jawab, wewenang dan komunikasi

5.5.1 Tanggung jawab dan wewenang

Manajemen puncak harus memastikan bahwa tanggung jawab dan wewenang ditetapkan dan dikomunikasikan di dalam organisasi.

Tabel 1. Contoh Form Penentuan Tanggung Jawab dan Wewenang

PENERAPAN

URAIAN JABATAN

ORGANISASI

SECTION : R & D
JABATAN : QUALITY CONTROL

DISETUJUI OLEH

WAKIL PIMPINAN

PIMPINAN

STRUKTUR

ATASAN : R & D
BAWAHAN : -

FUNGSI KERJA

TUGAS

1.

Melaksanakan instruksi yang diperintahkan R & D

2.

Melakukan test dan analisa kualitas bahan baku

3.

Melakukan test dan analisa kualitas produk jadi

4.

Melakukan test kualitas sesuai dengan prosedur dan instruksi kerja

5.

Mengontrol jadwal kalibrasi dan verifikasi alat-alat laboratorium di areanya

6.

Menjamin keakuratan data analisa secara repeat ability dan reproducy ability

7.

Menjaga kebersihan di area prosesnya

TANGGUNG JAWAB

1.

Melaporkan hasil pelaksanaan instruksi yang diperintahkan R & D secara Lisan atau Tertulis

2.

Melaporkan hasil test dari analisa kualitas bahan baku

3.

Melaporkan hasil test dari analisa kualitas produk jadi

4.

Melaporkan kualitas hasil produksi dan masalah yang berhubungan dengan kualitas
hasil produksi dan produk NG

WEWENANG

1.

Menghentikan proses produksi dari pemakaian raw material jika standar kualitas tidak tercapai

5.5.2 Wakil Manajemen

Manajemen puncak harus menunjuk seorang anggota manajemen organisasi, yang di luar dari tanggung jawab lainnya, harus memiliki tanggung jawab dan wewenang yang mencakup:

  1. Menjamin bahwa proses-proses yang dibutuhkan oleh sistem manajemen mutu ditetapkan, diterapkan dan dipelihara,
  2. Melaporkan kepada manajemen puncak kinerja dari sistem manajemen mutu dan kebutuhan untuk peningkatannya, dan
  3. Memastikan promosi kesadaran akan persyaratan pelanggan ke seluruh jajaran organisasi.

CATATAN Tanggung jawab wakil manajemen dapat mencakup sebagai penghubung dengan pihak luar dalam hal yang berhubungan dengan sistem manajemen mutu.

5.5.3 Komunikasi internal

Manajemen puncak harus memastikan bahwa proses komunikasi yang sesuai ditetapkan di dalam organisasi dan bahwa komunikasi tersebut mengambil peran mengenai efektifitas sistem manajemen mutu.

5.6 Tinjauan manajemen

5.6.1 Umum

Manajemen puncak harus meninjau sistem manajemen mutu organisasinya, dalam selang waktu yang direncanakan, untuk memastikan kelanjutan kesesuaian, kecukupan dan efektifitasnya. Tinjauan ini harus mencakup penilaian peluang untuk peningkatan dan kebutuhan untuk perubahan sistem manajemen mutu, termasuk kebijakan mutu dan sasaran mutu.

Catatan dari tinjauan manajemen harus dipelihara What 4.2.4.)

Tabel 2. Contoh Form Tinjauan Manajemen (Umum)

PENERAPAN

Management Review Agenda

Bentuk Report

PIC Meeting

Frekuensi

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Follow up hasil manajemen review

-

Report status action plan

MR

Bulanan

Sebelumnya yang keluar dari hasil
menejemen review
Pencapaian Target Customer Klaim

-

Target klaim vs actual

QA

Bulanan

Status Klaim Customer

-

Pembahasan setiap klaim

QA

Bulanan

yang terjadi

-

Status klaim (Open/Close)
Rejection Rate

-

Target reject vs actual

Produksi

-

Problem & Corrective Action
Efisiensi

-

Target reject vs actual

Produksi

-

Problem & Corrective Action
Efektifitas Training

-

Laporan pelaksanaan training

HRD

6 Bulanan

dan efektifitas training
Rencana penjualan + aktual pemenuhan PO

-

Target penjualan vs aktual

Mkt

6 Bulanan

Kepuasan pelanggan (summary kepuasan

-

Laporan Summary kepuasan

Mkt

Tahunan

pelanggan meliputi quality, delivery, pelanggan yang meliptui
persepsi (CSI), history masalah customer quality, delivery, persepsi (CSI),
akibat PTN) history masalah customer
akibat PTN)
Hasil audir internal, eksternal, maupun

-

Major problem, dilaporkan

MR

Maksimal 1 Bulan
customer audit secara detail setelah pelaksanaan

-

Status perbaikan hasil audit internal, eksternal
temuan audit dan audit customer
Evaluasi kebijakan dan sasaran mutu

-

Pembahasan perubahan

MR

Tahunan

perusahaan dan sasaran mutu, disesuaikan
dengan kondisi internal dan
eksternal (tuntutan customer
dan Taiho Group)
dll (sesuai kebutuhan perusahaan

5.6.2 Masukan tinjauan

Masukan tinjauan manajemen harus mencakup informasi mengenai:

  1. hasil audit
  2. umpan balik pelanggan
  3. kinerja proses dan kesesuaian produk,
  4. status tindakan pencegahan dan perbaikan,
  5. tindak lanjut dari tinjauan manajemen sebelumnya,
  6. perubahan yang dapat mempengaruhi sistem manajemen mutu, dan
  7. rekomendasi untuk peningkatan.

5.6.3 Keluaran tinjauan

Keluaran dari tinjauan manajemen harus mencakup adanya keputusan dan tindakan yang berhubungan dengan:

  1. Peningkatan keefektifan sistem manajemen mutu dan proses-prosesnya,
  2. Peningkatan dari produk yang berhubungan dengan persyaratan pelanggan,
  3. Kebutuhan sumber daya.

Tabel 3. Contoh Form Keluaran Tinjauan

PT. ABC

RISALAH RAPAT TINJAUAN MANAJEMEN

No. Dokumen

:

ABC/FO/MR/02/03. Rev 0
Tgl Berlaku

:

Tgl Revisi

:

Halaman

:

1 dari 1
Peserta Rapat

No.

Nama

Bagian

TTD

No.

Nama

Bagian

TTD

Notulist

1

1

2

2

3

3

4

4

5

5

Agenda :

1.

Pembahasan pencapaian sasaran mutu

2.

Pembahasan kinerja tiap departemen berdasarkan objektif Proses

3.

Pembahasan hasil internal quality audit

4.

Pembahasan hasil survey kepuasan pelanggan dan customer payback

5.

Pembahasan status tindakan perbaikan dan pencegahan

6.

Pembahasan program improvement

7.

Rencana perubahan yang mempengaruhi manajemen mutu
Tanggal     : Tanggal     :
Hasil Rapat Waktu       : 10.00 WIB – 15.00 WIB

No.

Uraian

Tindak Lanjut

Target

PIC

Status

Verifikasi

1

Pencapaian sasaran mutu

6. MANAJEMEN SUMBER DAYA

6.1 Penyediaan sumber daya

Organisasi harus menetapkan dan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan:

  1. Untuk menerapkan dan memelihara sistem manajemen mutu dan secara berkesinambungan meningkatkan keefektifannya, dan
  2. Untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memenuhi persyaratan pelanggan.

6.2 Sumber daya manusia

6.2.1 Umum

Personil yang melakukan pekerjaan yang mempengaruhi kesesuaian persyaratan produk harus kompeten berdasarkan kesesuaian pendidikan, pelatihan, ketrampilan dan pengalamannya.

CATATAN Kesesuaian dengan persyaratan produk dapat berdampak secara langsung atau tidak langsung oleh personel yang melakukan suatu pekerjaan di dalam sistem manajemen mutu.

6.2.2 Kompetensi, pelatihan dan kepedulian

Organisasi harus :

  1. Menetapkan kompetensi yang dibutuhkan untuk personel yang melaksanakan pekerjaan yang mempengaruhi kesesuaian dengan persyaratan produk,
  2. Bila sesuai, memberikan pelatihan atau mengambil tindakan lainnya untuk memenuhi kebutuhan kompetensi,
  3. Mengevaluasi keefektifan tindakan yang diambil, memastikan bahwa personel peduli mengenai kaitan dan pentingnya kegiatan mereka dan bagaimana mereka meyumbang pada pencapaian dari sasaran mutu, dan
  4. Memelihara catatan yang sesuai tentang pendidikan, pelatihan, ketrampilan dan pengalaman (lihat 4.2.4)

Tabel 4. Contoh Form Penilaian Kompetensi Pelatihan dan Kesadaran

Bagian : Assy

BAGIAN JABATAN

Nama

Keterampilan

5R

Leadership

Pendidikan

Mesin

Mesin

Mesin

Pilih

Cuting

Mesin

Pelurus

Sizing

Amplas

Bahan

Belah

STANDAR KOMPETENSI

Bagian : Assy

BAGIAN JABATAN

Keterampilan

5R

Leadership

Pendidikan

Mesin

Mesin

Mesin

Pilih

Cuting

Mesin

Pelurus

Sizing

Amplas

Bahan

Belah

Nilai

Keterampilan

5R

Leadership

Pendidikan

0

Tidak bisa Tidak tahu Tidak punya SD

1

Bisa dengan bimbingan/dibantu Sedikir tahu tidak melaksanakan Kurang SLTP

2

Bisa mengerjakan sendiri Tahu tapi kurang baik dalam melaksanakan Cukup Baik SLTA

3

Qualify (bisa mengerjakan, bisa improvement, bia menangani) Tahu dan melaksanakan dengan baik Qualified DIPLOMA

4

Expert (benar-benar menguasai, bisa improvement, mampu) Tahu, melaksanakan dan bisa audit Ahli SARJANA

Tabel 5. Contoh Form Penilaian Kompetensi Pelatihan dan Kesadaran

Tahun

No.

Topik Pelatihan

Level/Jabatan *)

Rencana Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan (Bulan/Minggu)

Keterangan

Manager

Staff

 

Juli

Agustus

September

Oktober

November

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

ISO 9001 : 2008

Plan

Actual

2

CUTTING

Plan

Actual

3

SIZING

Plan

Actual

4

MESIN BELAH

Plan

Actual

6.3 Infrastruktur

Organisasi harus menetapkan, menyediakan dan memelihara infrastruktur yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian dengan persyaratan produk. Infrastruktur termasuk, jika dapat diterapkan :

  1. Bangunan, ruang kerja dan utilitas terkait,
  2. Peralatan proses (balk perangkat keras dan perangkat lunak) dan
  3. Layanan pendukung (seperti transport dan komunikasi atau sistem informasi).

6.4 Lingkungan kerja

Organisasi harus menetapkan dan mengelola lingkungan kerja yang dibutuhkan untuk mencapai kesesuaian dengan persyaratan produk.

CATATAN Istilah “lingkungan kerja” terkait dengan

kondisi di mana pekerjaan dilakukan termasuk faktor­faktor fisika, lingkungan dan faktor lainnya (seperti kebisingan, suhu, kelembaban, cahaya atau cuaca).

7.  REALISASI PRODUK

7.1 Perencanaan realisasi produk

Organisasi harus merencanakan dan mengembangkan proses yang dibutuhkan untuk realisasi produk. Perencanaan realisasi produk harus konsisten dengan persyaratan lain dari proses-proses sistem manajemen mutu (lihat 4.1.).

Dalam merencanakan realisasi produk, organisasi harus menentukan hal berikut, apabila sesuai:

  1. Sasaran mutu dan persyaratan produk,
  2. Kebutuhan untuk menetapkan proses-proses dan dokumen-dokumen, dan menyediakan sumber daya yang spesifik untuk produk,
  3. Kegiatan verifikasi, validasi, pemantauan, yang dibutuhkan untuk produk dan kriteria keberterimaan produk,
  4. Catatan-catatan yang dibutuhkan untuk memberikan bukti bahwa proses realisasi dan produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan (lihat 4.2.4.).

Keluaran dari perencanaan ini harus dalam bentuk yang sesuai dengan metode operasi organisasi.

CATATAN 1 Dokumen yang menjelaskan proses sistem manajemen mutu (termasuk proses realisasi produk) dan sumber daya yang diterapkan untuk suatu produk tertentu, proyek atau kontrak tertentu, dapat dirujuk sebagai rencana mutu.

CATATAN 2 Organisasi dapat juga menerapkan persyaratan yang diberikan di 7.3 untuk mengembangkan proses realisasi produk.

7.2 Proses yang berhubungan dengan pelanggan

7.2.1 Penetapan persyaratan yang berhubungan dengan produk

Organisasi harus menetapkan :

  1. Persyaratan yang ditetapkan oleh pelanggan, termasuk persyaratan untuk penyerahan dan kegiatan setelah penyerahan.
  2. Persyaratan yang tidak dinyatakan oleh pelanggan tetapi dibutuhkan untuk ditetapkan atau untuk penggunaan tertentu, jika diketahui
  3. Persyaratan perundangan dan peratu ran yang terkait dengan produk, dan
  4. Persyaratan tambahan yang ditentukan oleh organisasi

CATATAN Aktivitas setelah penyerahan termasuk, misalnya, penyediaan garansi, kewajiban sesuai kontrak seperti jasa pemeliharaan, dan jasa tambahan lain seperti penggunaan kembali atau pembuangan akhir.

7.2.2 Tinjauan persyaratan yang terkait dengan produk

Organisasi harus meninjau persyaratan yang terkait dengan produk. Tinjauan ini harus dilaksanakan sebelum organisasi berjanji untuk memasok produk ke pelanggan (misalnya: penyampaian tender, persetujuan kontrak atau order, persetujuan perubahan kontrak atau order) dan harus memastikan bahwa :

  1. Persyaratan produk telah ditetapkan,
  2. Persyaratan kontrak atau order yang berbeda dengan yang dinyatakan sebelumnya telah diselesaikan, dan
  3. Organisasi memiliki kemampuan untuk memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Catatan hasil tinjauan dan tindakan sebagai hasil dari tinjauan harus dipelihara (lihat 4.2.4).

Bila pelanggan tidak memberikan             pernyataan terdokumentasi tentang persyaratan, maka persyaratan  pelanggan harus dikonfirmasikan oleh organisasi sebelum diterima.

Bila persyaratan produk berubah, organisasi harus memastikan bahwa dokumen yang terkait diubah dan personil yang terkait paham akan adanya perubahan persyaratan.

CATATAN Dalam situasi tertentu, seperti penjualan melalui internet, tinjauan formal tidak dapat dilaksanakan untuk masing-masing order. Sebagai gantinya tinjauan dapat meliputi informasi produk yang terkait seperti katalog atau materi iklan.

Gambar 5. Bagan Persyaratan yang Berkaitan Dengan Produk

7.2.3 Komunikasi pelanggan

Organisasi harus menetapkan dan menerapkan pengaturan yang efektif untuk berkomunikasi dengan pelanggan yang berhubungan dengan:

  1. Informasi produk,
  2. Permintaan penawaran, penanganan kontrak atau order, termasuk perubahannya, dan
  3. Umpan balik pelanggan, termasuk keluhan pelanggan.

7.3 Rancangan dan pengembangan

7.3.1 Perencanaan rancangan dan pengembangan

Organisasi harus merencanakan dan mengendalikan rancangan dan pengembangan produk. Selama perencanaan rancangan dan pengembangannya, organisasi harus menentukan :

  1. Tahapan-tahapan rancangan dan pengembangannya,
  2. Tinjauan, verifikasi dan validasi yang memadai untuk setiap tahapan rancangan dan pengembangannya, dan
  3. Tanggung jawab dan wewenang untuk rancangan dan pengembangannya.

Organisasi harus mengelola hubungan antar grup berbeda yang terlibat dalam rancangan dan pengembangannya untuk memastikan komunikasi yang efektif dan kejelasan tugas dan tanggung jawab.

Keluaran perencanaan harus diperbaharui, sesuai keperluan, sejalan dengan kemajuan rancangan dan pengembangannya.

CATATAN Tinjauan rancangan dan pengembangan, verifikasi dan validasi mempunyai tujuan yang berbeda. Hal tersebut dapat dilakukan dan dicatata secara terpisah atau digabungkan, sesuai kebutuhan untuk produk dan organisasi.

7.3.2 Masukan rancangan dan pengembangan

Masukan yang berhubungan dengan persyaratan produk harus ditetapkan dan catatnnya dipelihara (lihat 4.2.4). masukan tersebut harus mencakup :

  1. Persyaratan fungsiona I dan kinerja,
  2. Persyaratan perundangan dan peraturan yang berlaku,
  3. Bila dapat diterapkan, informasi yang diperoleh dari rancangan sebelumnya yang serupa, dan
  4. Persyaratan lainnya yang perlu untuk rancangan dan pengembangannya.

Masukan tersebut harus ditinjau kecukupannya. Persyaratan harus lengkap, jelas dan tidak saling bertentangan.

7.3.3 Keluaran rancangan dan pengembangan

Keluaran rancangan dan pengembangan harus dalam bentuk yang dapat dibuktikan kesesuaiannya dengan masukan rancangan dan pengembangan dan harus disetujui sebelum diterbitkan.

Keluaran rancangan dan pengembangannya harus :

  1. Memenuhi persyaratan masukan rancangan dan pengembangannya,
  2. Memberi informasi yang tepat untuk pembelian, produksi dan untuk pemberian pelayanan,
  3. Berisi atau mereferensikan kriteria keberterimaan produk, dan
  4. Menetapkan karakteristik produk yang perlu untuk penggunaan yang aman dan benar.

CATATAN Informasi untuk produksi dan penyediaan jasa dapat termasuk detil untuk pemeliharaan produk.

7.3.4 Tinjauan rancangan dan pengembangan

Pada tahapan yang sesuai, tinjauan yang sistematis terhadap rancangan dan pengembangan harus dilaksanakan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan (lihat 7.3.1)

  1. Untuk mengevaluasi kemampuan dari hasil rancangan dan pengembangannya untuk memenuhi persyaratan, dan
  2. Untuk mengidentifikasi masalah dan usulan tindakan yang diperlukan.

Peserta pada tinjauan tersebut harus meliputi wakil dari fungsi yang berkaitan dengan tahapan rancangan dan pengembangan yang sedang ditinjau. Catatan hasil dari tinjauan dan tindakan yang diperlukan harus dipelihara (lihat 4.2.4).

7.3.5 Verifikasi rancangan dan pengembangan

Verifikasi harus dilaksanakan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan (lihat 7.3.1) untuk memastikan bahwa keluaran rancangan dan pengembangannya telah memenuhi persyaratan masukan rancangan dan pengembangan. Catatan hasil verifikasi dan tindakan yang diperlukan harus dipelihara (lihat 4.2.4)

7.3.6 Validasi rancangan dan pengembangan

Validasi rancangan dan pengembangan harus dilaksanakan sesuai dengan pengaturan yang direncanakan (lihat 7.3.1) untuk memastikan bahwa hasil produk mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan atau maksud penggunaan, yang diketahui. Jika dapat dilaksanakan, validasi harus dilaksanakan sebelum penyerahan atau pemakaian produk. Catatan hasil dari validasi dan tindakan yang diperlukan harus dipelihara (lihat 4.2.4).

7.3.7 Perubahan rancangan dan pengembangan

Perubahan rancangan dan pengembangannya harus diidentifikasi dan catatannya dipelihara. Perubahan harus ditinjau, diverifikasi dan divalidasi, sesuai kemungkinan yang ada, dan disetujui sebelum diterapkan. Tinjauan perubahan rancangan dan pengembangan harus termasuk evaluasi pengaruh dari perubahan pada komponen dan produk yang telah diserahkan. Catatan hasil tinjauan perubahan dan tindakan yang diperlukan harus dipelihara (lihat 4.2.4).

Gambar 6. Bagan Usulan Design & Development

7.4 Pembelian

7.4.1 Proses pembelian

Organisasi harus memastikan bahwa produk yang dibeli sesuai dengan persyaratan pembelian yang ditetapkan. Jenis dan jangkauan pengendalian yang diterapkan kepada pemasok dan produk yang dibeli tergantung dari pengaruh produk yang dibeli pada realisasi produk berikutnya atau produk akhir.

Organisasi harus mengevaluasi dan memilih pemasok berdasarkan pada kemampuannya untuk memasok produk sesuai dengan persyaratan organisasi. Kriteria untuk pemilihan, evaluasi dan evaluasi ulang harus ditetapkan. Catatan hasil evaluasi dan bila ada tindakan yang diperlukan sebagai hasil dari evaluasi tersebut harus dipelihara (lihat 4.2.4).

7.4.2 Informasi pembelian

Informasi pembelian harus menjelaskan produk yang akan dibeli, termasuk bila sesuai :

  1. Persyaratan untuk persetujuan produk, prosedur, proses dan peralatan,
  2. Persyaratan kualifikasi personil, dan
  3. Persyaratan sistem manajemen mutu

Organisasi harus memastikan kecukupan persyaratan pembelian yang ditetapkan sebelum dikomunikasikan kepada pemasok.

7.4.3 Verifikasi produk yang dibeli

Organisasi harus menetapkan dan menerapkan inspeksi atau kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memastikan bahwa produk yang dibeli memenuhi persyaratan pembelian yang ditetapkan.

Jika organisasi atau pelanggannya bermaksud untuk melaksanakan verifikasi di tempat pemasok, organisasi harus menyatakan pengaturan verifikasi tersebut dan metode pelepasan produk di dalam informasi pembelian.

Gambar 7. Bagan Proses Proses Pembelian

7.5 Produksi dan penyediaan jasa

7.5.1 Pengendalian produksi dan penyediaan jasa

Organisasi harus merencanakan dan melaksanakan produksi dan penyediaan jasa dalam keadaan terkendali. Keadaan yang terkendali harus mencakup, apabila dapat diterapkan

  1. Ketersediaan informasi yang menjelaskan karakteristik produk,
  2. Ketersediaan instruksi kerja, sesuai kebutuhan
  3. Penggunaan peralatan yang memadai,
  4. Ketersediaan dan penggunaan peralatan, pemantauan dan pengukuran,
  5. Penerapan pemantauan dan pengukuran, dan
  6. Penerapan kegiatan pelepasan, penyerahan dan setelah penyerahan.

7.5.2 Validasi proses-proses produksi dan penyediaanjasa

Organisasi harus melakukan validasi setiap proses produksi dan penyediaan jasa di mana hasil keluaran tidak dapat diverifikasi dengan pemantauan atau pengukuran. In’ mencakup proses di mana kekurangan dapat terlihat hanya setelah produk digunakan atau pelayanan telah diserahkan.

Validasi harus memperagakan kemampuan proses tersebut untuk mencapai hasil yang direncanakan. Organisasi harus menetapkan pengaturan untuk proses tersebut termasuk, sesuai kebutuhan :

  1. menetapkan kriteria untuk tinjauan dan pengesahan proses,
  2. pengesahan peralatan dan kualifikasi personil,
  3. penggunaan metode dan prosedur yang spesifik
  4. persyaratan untuk catatan (lihat 4.2.4), dan
  5. validasi ulang.

7.5.3 Identifikasi dan mampu telusur

Bilamana sesuai, organisasi harus mengidentifikasi produk melalui cara-cara yang cocok selama realisasi produk. Organisasi harus mengidentifikasi status produk sesuai persyaratan pemantauan dan pengukuran selama realisasi produk. Bila mampu lacak adalah persyaratan, organisasi harus mengendalikan dan mencatat identifikasi unik dari produk (lihat 4.2.4)

CATATAN Pada beberapa sektor industri, yang dimaksud dengan manajemen konfigurasi adalah suatu cara untuk memelihara identifikasi dan mampu telusur.

7.5.4 Barang milik pelanggan

Organisasi harus merawat barang milik pelanggan selama berada di bawah kendali organisasi atau digunakan oleh organisasi. Organisasi harus mengidentifikasi, memverifikasi, melindungi dan menjaga barang milik pelanggan yang disediakan untuk digunakan atau digabungkan dalam produk. Jika ada barang milik pelanggan hilang, rusak ataupun ditemukan tidak sesuai untuk penggunaannya, hal ini harus dilaporkan ke pelanggan dan catatannya dipelihara (lihat 4.2.4).

CATATAN Barang milik pelanggan dapat termasuk hak milik intelektual.

7.5.5 Pemeliharaan produk

Organisasi harus menjaga produk selama proses internal dan penyerahan ke tujuan yang dimaksud untuk menjaga kesesuaian produk. Bila sesuai, pemeliharaan harus meliputi identifikasi, penanganan, pengemasan, penyimpanan dan perlindungan. Pemeliharaan juga harus berlaku pada komponen produk.

7.6 Pengendalian alat pemantauan dan pengukuran

Organisasi harus menentukan pemantauan dan pengukuran yang dilakukan dan alat pemantauan dan pengukuran yang diperlukan untuk memberikan bukti kesesuaian produk terhadap persyaratan yang ditetapkan.

bahwa pemantauan dan pengukuran dapat dilaksanakan dan pelaksanaannya konsisten dengan persyaratan pemantauan dan pengukuran.

Jika diperlukan untuk memastikan keabsahan hasilnya, alat pengukuran harus :

  1. Dikalibrasi atau diverifikasi, atau keduanya, pada jangka waktu tertentu, atau sebelum dipakai, terhadap standar pengukuran yang mampu lacak ke standar pengukuran internasional atau nasional; jika tidak ada standar, maka dasar yang digunakan untuk kalibrasi atau verifikasi harus dicatat (lihat 4.2.4);
  2. Disesuaikan atau disesuaikan ulang sesuai keperluan,
  3. Diidentifikasi agar status kalibrasi dapat dipastikan,
  4. Dijaga dari penyetelan yang dapat merubah hasil pengukuran,
  5. Dilindungi dari kerusakan dan kesalahan selama penanganan, perawatan dan penyimpanan.

Disamping itu, organisasi harus menilai dan mencatat keabsahan hasil pengukuran sebelumnya bila peralatan ditemukan tidak sesuai dengan persyaratan. Organisasi harus mengambil tindakan yang sesuai pada peralatan dan produk yang terkena dampaknya.

Catatan hasil kalibrasi dan verifikasi harus dipelihara (lihat 4.2.4).

Bila digunakan pada pemantauan dan pengukuran persyaratan tertentu, kemampuan perangkat lunak komputer untuk memenuhi penerapan yang dimaksud harus disahkan. Hal ini harus dilaksanakan sebelum penggunaan awal dan dikonfirmasi ulang sesuai keperluan.

CATATAN Konfirmasi kemampuan software komputer untuk memenuhi tujuan aplikasi dapat termasuk verifikasi dan manajemen konfigurasi untuk memelihara kesesuaiannya dalam penggunaan.

Gambar 8. Bagan Pengendalian Sarana Pementauan dan Pengukuran

8. PENGUKURAN, ANALISIS DAN PENINGKATAN

8.1 Umum

Organisasi harus merencanakan dan menerapkan pemantauan, pengukuran, analisis dan peningkatan proses yang diperlukan :

  1. Untuk memperagakan kesesuaian dengan persyaratan produk,
  2. Untuk memastikan kesesuaian sistem manajemen mutu, dan
  3. Untuk secara berkelanjutan meningkatkan keefektifan sistem manajemen mutu.

Hal ini harus mencakup penetapan metode yang dapat diterapkan, termasuk teknik statistik, dan jangkauan penggunaannya.

8.2 Pemantauan dan pengukuran

8.2.1 Kepuasan pelanggan

Sebagai salah satu pengukuran kinerja sistem manajemen mutu, organisasi harus memantau informasi yang berhubungan dengan tanggapan pelanggan apakah orgainisasi telah memenuhi persyaratan pelanggan. Metode-metode untuk mendapatkan dan mengunakan informasi ini harus ditetapkan.

CATATAN Memantau persepsi pelanggan dapat termasuk mendapatkan masukan dari berbagai sumber seperti survei kepuasan pelanggan, data pelanggan mengenai mutu produk yang diserahkan, survei opini pengguna, analisis kehilangan bisnis, ucapan selamat, klaim garansi, la pora n-la poran dealer.

8.2.2 Audit internal

Organisasi harus melaksanakan audit internal yang direncanakan secara berkala untuk menentukan apakah sistem manajemen mutu

  1. Sesuai dengan pengaturan yang direncanakan (lihat 7.1), terhadap persyaratan Standar Internasional ini dan persyaratan sistem manajemen mutu yang ditetapkan oleh organisasi, dan
  2. Sudah diterapkan secara efektif dan terpelihara

Program audit harus direncanakan,           dengan mempertimbangkan status dan pentingnya proses dan area yang akan diaudit, juga hasil audit sebelumnya. Kriteria audit, ruang lingkup, frekuensi dan metodenya harus ditetapkan. Pemilihan auditor dan pelaksanaan audit harus memastikan objektifitas dan kenetralan proses audit. Auditor tidak boleh mengaudit pekerjaannya sendiri.

Prosedur terdokumentasi harus dibuat untuk menetapkan tanggung jawab dan persyaratan­persyaratan untuk merencanakan dan melaksanakan audit, menetapkan catatan dan dan melaporkan audit.

Catatan audit dan hasilnya harus dipelihara (lihat 4.2.4).

Manajemen yang bertanggung jawab atas area yang telah diaudit harus memastikan bahwa tindakan telah diambil tanpa ditunda untuk menghilangkan ketidaksesuaian yang ditemukan dan penyebabnya.

Kegiatan tindak lanjut harus mencakup verifikasi tindakan yang diambil dan melaporkan hasil-hasil verifikasi (lihat 8.5.2).

CATATAN Lihat ISO 19011 sebagai panduan.

Gambar 9. Bagan Pelaksanaan Audit Internal

8.2.3 Pemantauan dan pengukuran proses

Organisasi harus menerapkan metode yang sesuai untuk pemantauan dan, jika dapat diterapkan, pengukuran proses-proses sistem manajemen mutu. Metode tersebut harus memperagakan kemampuan proses untuk mencapai hasil yang direncanakan. Bila hasil yang direncanakan tidak dipenuhi, koreksi dan tindakan korektif harus diambil, sesuai keperluan.

CATATAN Saat menetapkan metode-metode yang sesuai, disarankan bahwa organisasi mempertimbangkan jenis dan tingkat pemantauan atau pengukuran untuk setiap proses-proses yang berhubungan dengan dampak pada kesesuaian persyaratan produk dan pada efektifitas dari sistem manajemen mutu.

8.2.4 Pemantauan dan pengukuran produk

Organisasi harus memonitor dan mengukur karakteristik produk untuk membuktikan bahwa persyaratan produk telah dipenuhi. Kegiatan ini harus dilakukan dalam tahapan proses realisasi produk yang sesuai menurut pengaturan yang direncanakan (lihat 7.1). Bukti kesesuaian dengan kriteria keberterimaan harus dipelihara.

Catatan harus mengindikasikan orang yang berwenang dalam melepaskan produk (lihat 4.2.4).

Pelepasan produk dan penyerahan jasa tidak boleh dilaksanakan sampai seluruh pengaturan yang direncanakan (lihat 7.1) telah dilengkapi dengan memuaskan, atau jika tidak, atas persetujuan dari pihak yang berwenang, jika dapat diterapkan, oleh pelanggan.

8.3 Pengendalian ketidaksesuaian produk

Organisasi harus memastikan bahwa produk yang tidak sesuai dengan persyaratan produk, diidentifikasi dan dikendalikan untuk mencegah penggunaan atau penyerahan yang tidak diinginkan. Pengendalian serta tanggung jawab dan wewenang terkait untuk memperlakukan ketidaksesuaian produk ha rus ditetapkan dalam prosedur terdokumentasi.

Jika dapat diterapkan, organisasi harus memperlakukan ketidaksesuaian produk dengan satu atau lebih cara berikut:

  1. Mengambil tindakan untuk menghilangkan ketidaksesuaian yang ditemukan;
  2. Kewenangan penggunaannya, pelepasan atau penerimaan di bawah konsesi oleh yang berwenang yang terkait dan, jika dapat diterapkan, oleh pelanggan,
  3. Mengambil tindakan             untuk menghindarkan
  4. Penggunaan atau penera pan sesuai tujuan semula. Mengambil tindakan yang sesuai pada dampak, atau potensi dampak, ketidaksesuaian saat ketidaksesuaian produk ditemukan setelah penyerahan atau saat penggunaan.

Bila ketidaksesuaian produk telah diperbaiki harus dilaksanakan verifikasi ulang untuk memperlihatkan kesesuaian dengan persyaratan.

Catatan ketidaksesuaian yang terjadi dan tindakan yang diambil selanjutnya, termasuk konsesi yang diperoleh harus dipelihara (lihat 4.2.4).

8.4 Analisis data

Organisasi harus menentukan, mengumpulkan dan menganalisis data yang sesuai untuk memperagakan kelayakan dan keefektifan sistem manajemen mutu dan mengevaluasi jika peningkatan berkelanjutan yang efektif dari sistem manajemen mutu dapat dilakukan. Kegiatan ini harus meliputi data yang diambil sebagai hasil pemantauan dan pengukuran dan dari sumber lainnya yang terkait.

Analisis data harus memberikan informasi yang berhubungan dengan:

  1. Kepuasan pelanggan (lihat 8.2.1),
  2. Kesesuaian dengan persyaratan produk (lihat 7.2.1),
  3. Karakteristik dan kecenderungan proses dan produk termasuk peluang untuk tindakan preventif (lihat 8.2.3 dan 8.2.4), dan
  4. Para pemasok (lihat 7.4)

8.5 Peningkatan

8.5.1 Peningkatan berkelanjutan

Organisasi harus meningkatkan secara berkelanjutan keefektifan sistem manajemen mutu melalui penggunaan kebijakan mutu, sasaran mutu, hasil audit, analisis data, tindakan korektif dan preventif dan tinjauan manajemen.

8.5.2 Tindakan korektif

Organisasi harus mengambil tindakan  untuk menghilangkan penyebab dari ketidaksesuaian untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut. Tindakan korektif harus sesuai dengan dampak ketidaksesuaian yang ditimbulkan.

Prosedur terdokumentasi harus ditetapkan guna menentukan persyaratan untuk:

  1. Meninjau ketidaksesuaian (termasuk keluhan pelanggan),
  2. Menentukan penyebab dari ketidaksesuaian,
  3. Mengevaluasi kebutuhan akan tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa ketidaksesuaian tidak akan berulang,
  4. Menentukan dan menerapkan tindakan yang diperlukan,
  5. Mencatat hasil tindakan yang diambil (lihat 4.2.4), dan
  6. Meninjau efektifitas tindakan korektif yang diambil.

8.5.3 Tindakan preventif

Organisasi harus               menentukan tindakan untuk menghilangkan penyebab yang berpotensi da pat menimbulkan ketidaksesuaian untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi. Tindakan preventif harus sesuai dengan dampak dari masalah potensial tersebut.

Prosedur terdokumentasi harus ditetapkan guna menentukan persyaratan untuk:

  1. Menentukan potensi ketidaksesuaian dan penyebabnya,
  2. Mengevaluasi kebutuhan tindakan untuk mencegah timbulnya ketidaksesuaian,
  3. Menentukan dan menerapkan tindakan yang diperlukan,
  4. Mencatat hasil tindakan yang diambil (lihat 4.2.4), dan
  5. Meninjau efektifitas tindakan preventif yang diambil.

Gambar 10. Bagan Prosedur Tindakan Perbaikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 6. Hubungan klausul ISO 9001:2008

No.

Item

ISO 9001:2008

1

Lingkup

1

2

Acuan yang Mengatur

2

3

Definisi

3

4

Kebijakan Mutu

5.1 + 5.3 + 5.4.1

5

Tanggung Jawab dan Wewenang

5.5.1

6

Sumber Daya

6.1 + 6.2.1

7

Wakil Manajemen

5.5.2

8

Tinjauan Manajemen

5.6.1 + 8.5.1

9

Sistem Mutu, Umum

4.1 + 4.2.2

10

Prosedur Sistem Mutu

4.2.1

11

Perencanaan Mutu

5.4.2 + 7.1

12

Tinjauan Kontrak

5.2 + 7.2.1 + 7.2.3

13

Perubahan Kontrak

7.2.2

14

Rekaman Kontrak

7.2.2

15

Perencanaan Desain dan Pengembangan

7.3.1

16

Bidang Temu Organisasi dan Teknis

7.3.1

17

Masukan Desain

7.2.1 + 7.3.2

18

Keluaran Desain

7.3.3

19

Tinjauan Desain

7.3.4

20

Verifikasi Desain

7.3.5

21

Validasi Desain

7.3.6

22

Perubahan Desain

7.3.7

23

Pengendalian Dokumen dan Data

4.2.3

24

Penilaian Subkontraktor

7.4.1

s25

Data Pembelian

7.4.2

26

Verifikasi Pembelian Produk

7.4.3

27

Pengendalian Produk Pasokan Pelanggan

7.5.4

28

Idenfifikasi dan Mampu Telusur Produk

7.5.3

29

Pengendalian Proses

6.3 + 6.4 + 7.5.1 +
7.5.2

30

Inspeksi dan Pengujian

7.1 + 8.1

31

Inspeksi dan Pengujian Penerimaan

7.4.3 + 8.2.3

32

Inspeksi dan Pengujian Dalam Proses

8.2.4

33

Inspeksi dan Pengujian Akhir

8.2.4

34

Rekaman Inspeksi dan Uji

7.5.3 + 8.2.4

35

Pengendalian Alat Inspeksi, Ukur dan Uji

7.6

36

Status Inspeksi dan Uji

7.5.3

37

Pengendalian Produk yang Tidak Sesuai

8.3

38

Tindakan Koreksi

8.5.2

39

Tindakan Perbaikan

8.5.3

40

Penanganan

7.5.5

41

Penyimpanan

7.5.5

42

Pengemasan

7.5.5

43

Pengawetan

7.5.5

44

Penyerahan

7.5.1

45

Pengendalian Mutu Rekaman

4.2.2

46

Audit Mutu Internal

8.2.2 + 8.2.3

47

Pelatihan

6.2.2

48

Pelayanan

7.5.1

49

Identifikasi Kebutuhan

8.1 + 8.2.3 + 8.2.4

8.4

+

50

Prosedur Teknik Statistik

8.1 + 8.2.3 + 8.2.4

8.4

+

SNI VS JORC pada Perhitunngan sumberdaya Batubara

•Kode JORC menyediakan sistem untuk klasifikasi tonase dan perkiraan nilai menurut keyakinan geologi dan pertimbangan teknis / ekonomi. Kode menggambarkan kriteria yang berlaku untuk pelaporan hasil eksplorasi, Sumberdaya Mineral, Cadangan Bijih, Sumberdaya Batubara dan Cadangan dan mengisi stope termineralisasi, stok, sisa-sisa, pilar, mineralisasi kelas rendah dan tailing. Stephenson (1995) merangkum sejarah perkembangan Kode JORC oleh Bersama Cadangan Bijih Komite, anggota yang terdiri dari Institut Australia Pertambangan dan Metalurgi (AusIMM), Dewan Mineral Australia (MCA) dan Institut Australia Geoscientists (AIG). Komite juga memiliki perwakilan dari Bursa AustraliaExchange (ASX), Lembaga Efek Australia (SIA) dan Konsultan Mineral Industri Asosiasi (MICA).
 
Prinsip-prinsip dari Kode JORC pada Sebuah laporan publik harus disajikan dengan jelas dan jelas (yaitu transparansi), harus mencakup semua informasi cukup diperlukan dan diharapkan (yaitu materialitas) dan harus berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh CP (yaitu kompetensi)
 

Ruang Lingkup SNI

 

Dokumen ini meliputi uraian mengenai metodologi yang dianjurkan untuk diikuti dalam memperkirakan/mengestimasikan jumlah Batubara insitu, Sumberdaya dan Cadangan Batubara ; dan untuk memberikan panduan dalam pelaporan kepada pemerintah dan dokumen dokumen teknis untuk pelaporan publik maupun non publik (internal perusahaan).  Pedoman dibuat bersifat luas dengan harapan agar dapat diaplikasikan untuk berbagai endapan batubara Indonesia yang bervariasi baik dalam peringkat/rank, kualitas, dan lingkungan geologinya. Pedoman ini juga memperkenalkan Estimator Sumberdaya dan Cadangan Batubara yaitu pihak/orang yang bertanggung-jawab atas kelayakan dan kualitas estimasi Cadangan dan Sumberdaya yang disampaikannya

 

Kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan ini adalah :

•SNI dan JORC tidak terlalu banyak perbedaan yang mendasar, hanya saja dalam SNI ada beberapa hal yang tidak dijelaskan secara mendetil seperti apa yang dijelaskan di dalam JORC
•Yang perlu diingat adalah SNI dan JORC merupakan metoda yang digunakan sebagai alat bantu untuk menjaga kualitas dalam kegiatan teknis pengambilan data dan juga pengolahan data yang dalam hal ini berguna untuk menunjang kegiatan penghitungan sumberdaya dan cadangan; yang mana lebih penting daripada hal ini adalah mengenai pelaku atau pelaksana yang melaksanakan kegiatan penghitungan sumberdaya dan cadangan, harus diperhatikan mengenai kapabilitas dan tingkat tanggungjawabnya terhadap hasil daripada penghitungan yang telah dilaksanakannya